FOTO BISU

FOTO BISU

Tuesday, March 10, 2015

My Love Story

Tidak ada yang tahu kapan perasaan ini datang,tapi saya akan mencoba merangkainya secara singkat dan jelas
****

Sangat jelas untuk diingat bagaiman ketika saya dengan malu-malu memandang Dia yang duduk di bangku depan yang berjarak dua bangku dari tempat di mana saya selalu mengagumi setiap helai rambut ikalnya yang terikat rapi.Entah bagaimana dia merawat diri hingga mata tajam saya tak mampu meliat cela yang ada padanya.
Dia begitu memesona,kekaguman ini hampir disetiap hal yang melekat padanya. Dia yang pendiam seolah candu untuk terus bertanya apapun tentangnya. Jika malam tiba,tak pernah dilewati tanpa membayangkan sosok idaman hati menjelang tidur bahkan tak jarang menjadi "aktris" menghiasi mimpi-mimpi.
Sedahsyat “letusan gunung api” gempuran hati karenanya jika sehari saja saya tidak memandang wajahnya. Minggu bukan lagi hari yang ditunggu.Minggu adalah petaka,waktunya menahan terjangan “lahar rindu”.
Jelas ini tidak normal.Kalau bukan cinta namanya,lalu apalagi?.
Tidak ada tanda-tanda perasaan ini akan memudar,saya tidak ingin “mati” menahan perasaan cinta .Saya harus bertindak,setidaknya itu yang dilakukan oleh pria sejati untuk mendapatkan “ tuan putri” meskipun selalu tidak mudah dari sekedar mengucapkkannya.
Tak banyak yang saya ingat bagaimana saya mulai mendekati dia.Bukan karena tidak banyak yang membekas di hati, tapi memang saya tidak banyak berbuat karena saya hanyalah seseorang yang mendadak sangat pemalu jika berhadapan dengannya.Sangat kontras jika dibanding dengan kelakuan saya sehari-hari yang selalu “bising”.
****
Sampai suatu ketika pihak sekolah mengumumkan bahwa dia didaulat menjadi wakil sekolah pada sebuah kompetisi astonomi tingkat kabupaten.Saya tahu dia membutuhkan buku astronomi untuk persiapan lomba.Saya manfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya,saya tawarkan buku astronomi yang saya dapatkan dari perpustakaan sekolah.Kebetulan saya pernah membaca buku itu di perpustakaan jadi saya tahu buku itu tersedia di sana.
Untuk memendekkan tulisan ini saya lansung bercerita dihari di mana saya menyampaikan perasaan cinta padanya.Hari itu adalah hari sabtu 16 Mei 2009,di jalanan pulang sekolah saya memberanikan diri mengucapkan kata cinta padanya.Dia hanya berkata akan memberikan jawaban setelah dia selesai mengikuti kompetisi astronomi itu yang artinya saya baru mendengar jawaban darinya selasa 19 mei karena kompetisi itu dilaksanakan hari senin.Hanya itu yang dia ucapkan tanpa ekspesi.
    Menunggu memang tidak menyenangkan bagi kebanyakan orang begitu juga dengan saya apalagi yang ditunggu adalah jawaban “cinta”. Setiap jam berlalu dengan tidak wajar,melambat dari yang semestinya. Setelah seolah-olah menunggu ratusan tahun,hari yang ditunggu-tunggu datang jua.Saya berangkat sekolah dengan harap-harap cemas akankah cinta saya diterima atau tidak.Ada sedikit keraguan untuk menanyakan jawabannya.Takut tiba-tiba menyerang saya,khawatir jika dia bilang “tidak”.Jika tidak mau menanggung penasaran dan penyesalan saya harus memberanikan diri untuk menagih jawabannya.
    Kebetulan kelas sedang “off”,Guru kami sedang ada kesibukan di kantor.Saya hampiri dia,kemudian mengajaknya keluar kelas.Setelah memastikan tidak ada yang “menguping” saya katakan padanya saya ingin mendengar jawaban atas pernyataan cinta padanya.Dia hanya menjawab iya,jawabannya singkat itu sudah cukup bagi kami untuk memulai hubungan cinta hingga saat ini.



Bukan rekayasa

Tulisan ini tidak cukup untuk menceritkan secara lengkap kejadian yang sebenarnya karena penulis keletihan dan juga keterbatasan keterampilan penulis menyusun kata.
Dia adalah Eni Homnizar

No comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan tujuan membangun,tidak dilarang jika anda ingin mengungkapkan ketidaksukaan anda terhadap konten di blog saya asalkan anda santun menyampaikannya.