Tidak ada yang tahu kapan perasaan ini
datang,tapi saya akan mencoba merangkainya secara singkat dan jelas
****
Sangat jelas untuk diingat bagaiman ketika saya dengan malu-malu
memandang Dia yang duduk di bangku depan yang berjarak dua bangku dari tempat
di mana saya selalu mengagumi setiap helai rambut ikalnya yang terikat
rapi.Entah bagaimana dia merawat diri hingga mata tajam saya tak mampu meliat
cela yang ada padanya.
Dia begitu memesona,kekaguman ini hampir disetiap hal yang melekat
padanya. Dia yang pendiam seolah candu untuk terus bertanya apapun tentangnya. Jika
malam tiba,tak pernah dilewati tanpa membayangkan sosok idaman hati menjelang
tidur bahkan tak jarang menjadi "aktris" menghiasi mimpi-mimpi.
Sedahsyat “letusan gunung api” gempuran hati karenanya jika sehari saja
saya tidak memandang wajahnya. Minggu bukan lagi hari yang ditunggu.Minggu
adalah petaka,waktunya menahan terjangan “lahar rindu”.
Jelas ini tidak normal.Kalau bukan cinta namanya,lalu apalagi?.
Tidak ada tanda-tanda perasaan ini akan memudar,saya tidak ingin “mati”
menahan perasaan cinta .Saya harus bertindak,setidaknya itu yang dilakukan oleh
pria sejati untuk mendapatkan “ tuan putri” meskipun selalu tidak mudah dari
sekedar mengucapkkannya.
Tak banyak yang saya ingat bagaimana saya mulai mendekati dia.Bukan
karena tidak banyak yang membekas di hati, tapi memang saya tidak banyak
berbuat karena saya hanyalah seseorang yang mendadak sangat pemalu jika
berhadapan dengannya.Sangat kontras jika dibanding dengan kelakuan saya
sehari-hari yang selalu “bising”.
****
Sampai suatu ketika pihak sekolah mengumumkan bahwa dia didaulat menjadi
wakil sekolah pada sebuah kompetisi astonomi tingkat kabupaten.Saya tahu dia
membutuhkan buku astronomi untuk persiapan lomba.Saya manfaatkan kesempatan ini
untuk mendekatinya,saya tawarkan buku astronomi yang saya dapatkan dari
perpustakaan sekolah.Kebetulan saya pernah membaca buku itu di perpustakaan jadi
saya tahu buku itu tersedia di sana.
Untuk memendekkan tulisan ini saya lansung bercerita dihari di mana saya
menyampaikan perasaan cinta padanya.Hari itu adalah hari sabtu 16 Mei 2009,di
jalanan pulang sekolah saya memberanikan diri mengucapkan kata cinta
padanya.Dia hanya berkata akan memberikan jawaban setelah dia selesai mengikuti
kompetisi astronomi itu yang artinya saya baru mendengar jawaban darinya selasa
19 mei karena kompetisi itu dilaksanakan hari senin.Hanya itu yang dia ucapkan
tanpa ekspesi.
Menunggu memang tidak menyenangkan
bagi kebanyakan orang begitu juga dengan saya apalagi yang ditunggu adalah
jawaban “cinta”. Setiap jam berlalu dengan tidak wajar,melambat dari yang
semestinya. Setelah seolah-olah menunggu ratusan tahun,hari yang
ditunggu-tunggu datang jua.Saya berangkat sekolah dengan harap-harap cemas
akankah cinta saya diterima atau tidak.Ada sedikit keraguan untuk menanyakan
jawabannya.Takut tiba-tiba menyerang saya,khawatir jika dia bilang “tidak”.Jika
tidak mau menanggung penasaran dan penyesalan saya harus memberanikan diri
untuk menagih jawabannya.
Kebetulan kelas sedang “off”,Guru
kami sedang ada kesibukan di kantor.Saya hampiri dia,kemudian mengajaknya
keluar kelas.Setelah memastikan tidak ada yang “menguping” saya katakan padanya
saya ingin mendengar jawaban atas pernyataan cinta padanya.Dia hanya menjawab
iya,jawabannya singkat itu sudah cukup bagi kami untuk memulai hubungan cinta
hingga saat ini.
Bukan rekayasa
Tulisan ini tidak cukup untuk menceritkan secara lengkap kejadian yang
sebenarnya karena penulis keletihan dan juga keterbatasan keterampilan penulis
menyusun kata.
Dia adalah Eni Homnizar
No comments:
Post a Comment
Komentarlah dengan tujuan membangun,tidak dilarang jika anda ingin mengungkapkan ketidaksukaan anda terhadap konten di blog saya asalkan anda santun menyampaikannya.